Sayangku, aku tak pernah menyangka, tak pernah merencanakan bahwa aku mencintaimu. Aku tak perlu bertanya, apakah engkau memiliki cinta yang sekadar dengan cintaku. Aku juga tak mau bertanya, dari keluarga yang bagaimana dirimu, kayakah, miskinkah? Akhirnya ku kenali yang namanya cinta, muncul secara tiba-tiba dalam diriku, menyergapku, memelukku, merasukiku, semua ini tanpa pernah kuasa aku tolak. Aku pasrah, tetapi bukan tidak berdaya. Aku menerima, tetapi bukan tanpa senang dan bahagia.
Cinta itu merasuk entah darimana bagian dari diriku, tanpa permisi, tahu-tahu sudah berada di dalam rumah diriku. Cinta itu kemudian menjadi jiwa. Dengan cinta yang menjadi jiwa, aku hidup dan dihidupi oleh cinta. Karenanya, aku bersyukur oleh sebab cinta yang hidup di dalam diriku.
Aku mencintaimu, sebentuk makhluk laki-laki yang berbeda dari diriku. Dari hidup dengan dirimu, lalu aku mengenal hidup, berpikir, berasa, berintuisi. Dari hidup dengan dirimu, lalu aku mengenal kenikmatan, keindahan, kelemahlembutan, dan semacamnya. Dari mengenal dirimu juga, aku mengenal kekalutan, kecemburuan, kecemasan, tantangan, dan semacamnya. Dari mengenal dirimu pula, ternyata ada kejahatan, kesakitan, kesedihan, kemuakan, kesombongan, dan semacamnya. Dari adamu, aku mengenal bahwa aku perempuan dan kau lelaki. Dari mengenal diriku ini, aku mengenal dirimu, lalu aku hidup dalam keyakinan-keyakinan. Bagaimana aku akan hidup tanpa keyakinan-keyakinan? Bukankah aku akan terperosok di dalam keputusasaan yang sangat apabila tanpa keyakinan-keyakinan itu? Karenanya sayang, sekalipun silih berganti antara kepahitan dan kemanisan, kesedihan dan kebahagiaan, kemarin dan hari ini dan menjelang esok, maka kau-aku tetap hidup dengan keyakinan yang kokoh sekaligus indah. Itu semua disebabkan oleh cintamu.